Social Anthropology Summer Course 2026

Race, Migration, and Multiculturalism — Empat Pembicara Internasional Hadirkan Perspektif Global tentang Isu Sosial-Kemanusiaan

Semarang, Mei 2026 — Program Studi S1 Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Program Equity kembali menyelenggarakan Summer Course 2026 bertema Race, Migration, and Multiculturalism. Kegiatan ini berlangsung pada 4–6 Mei 2026 secara daring dan hybrid serta dapat diakses oleh mahasiswa serta akademisi muda dari seluruh dunia. Summer Course tahun ini menghadirkan empat pembicara internasional dari berbagai institusi terkemuka yang akan menyampaikan perspektif kritis mengenai isu ras, migrasi, dan keberagaman dari berbagai penjuru dunia.

Membuka rangkaian Summer Course pada 4 Mei 2026, Dr. Gurpreet Kaur dari SOAS University of London sekaligus peneliti di United Nations University International Institute for Global Health menyampaikan kuliah bertema “Gender, Climate & Displacement in Multicultural Asia.”Dr. Kaur memetakan bagaimana krisis iklim mempercepat perpindahan penduduk di Asia yang majemuk secara budaya, sekaligus menunjukkan bahwa perempuan dan kelompok gender minoritas menanggung beban paling berat dari bencana dan degradasi lingkungan. Ia menegaskan bahwa perempuan dan kelompok marginal adalah pihak yang paling terdampak sekaligus paling minim mendapat akses terhadap perlindungan dan pemulihan. Hal ini berkaitan antara kerentanan iklim, ketidaksetaraan gender, dan hilangnya ruang hidup, sembari menawarkan kerangka keadilan iklim yang inklusif dan berbasis komunitas. Sesi ini disambut antusias oleh peserta yang aktif mengajukan pertanyaan seputar kebijakan adaptasi iklim yang berperspektif gender, sesi inilah yang membuka hari pertama dengan energi diskusi yang tinggi.

Masih di hari yang sama, Tetiana Storozhko, CEO sekaligus Co-Founder dari TENET Center for Social Transformations, membawakan topik “Between Memory and Reality: Roma Communities through the Lens of Antigypsyism and Migration.” Storozhko mengajak peserta untuk menyelami realitas komunitas Roma. Mengangkat pengalaman komunitas Roma di Eropa, Storozhko menggali bagaimana ingatan sejarah dan diskriminasi sistemik (antigypsyism) membentuk realitas migrasi mereka saat ini. Presentasi ini mengurai narasi-narasi yang terlanjur melekat pada identitas Roma, memperlihatkan ketegangan antara warisan budaya yang dilestarikan dan tekanan asimilasi yang mereka hadapi di negara-negara tujuan, sekaligus bagaimana memori kolektif mereka menjadi resistensi dalam menghadapi dehumanisasi. Sesi ini memberikan sudut pandang yang jarang terdengar namun sangat relevan dalam diskursus migrasi dan multikulturalisme global.

Memasuki 5 Mei 2026, suasana semakin hangat ketika Dr. Eric Thompson dari National University of Singapore hadir langsung secara offline untuk membuktikan bahwa keterbatasan jarak tidak menghalangi kualitas diskusi. Ia membawakan topik “Gender in Muslim Southeast Asia.”Dr. Thompson mengurai kompleksitas relasi gender di kawasan Asia Tenggara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Ia menjelaskan bagaimana konstruksi gender dipengaruhi oleh persimpangan antara nilai-nilai Islam, tradisi lokal, modernisasi, dan tekanan globalisasi. Dr. Thompson juga mengeksplorasi bagaimana dinamika gender ini berkaitan dengan fenomena migrasi, baik migrasi tenaga kerja maupun perpindahan lintas batas yang semakin masif. Format hybrid yang diterapkan justru mendorong interaksi dan diskusi yang lebih luas, dengan peserta daring dari berbagai negara serta peserta luring turut menyampaikan pertanyaan dan perspektif mereka secara langsung.

Menutup rangkaian Summer Course pada 6 Mei 2026, Prof. Neha Vora dari American University of Sharjah menyampaikan sesi bertema “Race, Labor, and Migration in the Gulf.” Prof. Vora membedah sistem kerja migran di Kawasan Teluk yang penuh ketimpangan, di mana hierarki ras dan asal negara menentukan nasib jutaan pekerja, karena mayoritas mereka berasal dari Asia Selatan dan Tenggara yang hidup tanpa perlindungan hukum yang memadai. Diskusi yang menyusul sesi ini berlangsung panjang dan penuh keberanian, dengan peserta menggali pertanyaan serta diskusi tajam seputar tujuan dalam melindungi hak-hak pekerja migran.

Social Anthropology Summer Course 2026 ditutup dengan sesi refleksi bersama. Peserta menyampaikan apresiasi mendalam atas pengalaman belajar lintas budaya ini yang menyediakan pengetahuan berbasis internasional yang kaya akan ilmu dan juga mengasah kepekaan sosial serta membangun jejaring akademik internasional. Kegiatan ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, ketika dibagikan dengan penuh semangat dan keterbukaan, mampu melampaui batas geografis dan menginspirasi generasi akademisi muda untuk menjadi agen perubahan yang nyata.